Part 5 – Tempat untuk Pulang (Ending)
Rumah sakit selalu punya cara sendiri untuk membuat waktu terasa berbeda. Lebih lambat. Lebih berat. Dan entah kenapa… lebih jujur. Arka duduk di kursi dingin di luar ruang perawatan. Tangannya saling menggenggam erat, seolah kalau ia melepaskannya, sesuatu akan benar-benar hilang. Sudah tiga hari sejak Nara dirawat. Tiga hari sejak semuanya berubah dari sekadar cerita… menjadi kenyataan yang tidak bisa dihindari. Bau antiseptik, suara langkah perawat, dan bunyi mesin medis menjadi latar yang terus berulang. Namun yang paling berat— Adalah menunggu. Pintu ruang dokter terbuka. Seorang dokter keluar, wajahnya tenang namun sulit dibaca. “Keluarga pasien?” tanyanya. Arka berdiri. “Saya…,” ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan, “orang terdekatnya.” Dokter itu mengangguk. “Kondisinya cukup serius. Tumornya berkembang lebih cepat dari yang kami perkirakan.” Kalimat itu seperti menghantam dada Arka. “Operasi?” tanya Arka cepat. “Kami akan mencoba,” jawab dokter. “Tapi risikonya tinggi.”...