Part 4 – Waktu yang Tidak Banyak

 


Pagi itu datang terlalu cepat.

Bagi sebagian orang, pagi adalah awal baru. Tapi bagi Nara, pagi justru terasa seperti pengingat—bahwa waktu terus berjalan, tanpa peduli apakah ia siap atau tidak.

Ia duduk di tepi ranjang, ponsel masih berada di tangannya. Pesan semalam belum ia balas.

Nara, kita perlu bicara. Ini tentang kondisi kamu.

Kalimat itu terus terngiang.

Seperti sesuatu yang tidak bisa lagi ia hindari.


Di sisi lain kota, Arka berdiri di depan mesin kopi kantor. Tangannya bergerak otomatis, menuang gula, mengaduk perlahan. Namun pikirannya tidak ada di sana.

Ia memikirkan Nara.

Tentang pertanyaan semalam.

Tentang ekspresi wajahnya.

Tentang sesuatu yang terasa… tidak beres.

“Arka?”

Suara Dimas membuatnya sedikit tersentak.

“Lo kenapa? Dari tadi bengong,” tanya Dimas.

“Gak apa-apa,” jawab Arka singkat.

Namun kali ini, bahkan ia sendiri tidak percaya dengan jawabannya.


Sore itu, Arka kembali ke jembatan.

Langit mendung, seperti menahan hujan yang belum jatuh. Angin bertiup lebih dingin dari biasanya.

Dan seperti yang ia harapkan—

Nara ada di sana.

Berdiri di tempat yang sama.

Namun kali ini, ada sesuatu yang berbeda.

Ia terlihat lebih rapuh.

“Hey,” sapa Arka pelan.

Nara menoleh dan tersenyum.

Tapi senyum itu… tidak utuh.

“Kamu datang,” katanya.

Arka mengangguk. “Kamu juga.”

Mereka berdiri berdampingan.

Namun jarak di antara mereka terasa lebih jauh dari sebelumnya.


“Aku harus cerita sesuatu,” kata Nara tiba-tiba.

Nada suaranya serius.

Arka langsung menoleh. “Apa?”

Nara menarik napas panjang.

Seolah apa yang akan ia katakan… akan mengubah segalanya.

“Aku sakit, Ka.”

Satu kalimat.

Namun cukup untuk membuat dunia Arka berhenti.

“Sakit… apa?”

Nara menggenggam tangannya sendiri, mencoba menahan gemetar.

“Awalnya cuma pusing. Terus sering capek. Aku kira biasa aja.”

Ia berhenti sejenak.

“Sampe akhirnya aku periksa.”

Arka tidak berkedip.

Ia menunggu.

Namun di dalam dadanya, sesuatu mulai runtuh.

“Dokter bilang… ada tumor di kepala aku.”

Sunyi.

Tidak ada suara.

Tidak ada angin.

Tidak ada dunia.

Hanya kalimat itu… yang menggantung di antara mereka.


Arka merasa sulit bernapas.

“Tumor…?” ulangnya pelan.

Nara mengangguk.

“Masih bisa diobati?” tanya Arka cepat, hampir memotong napasnya sendiri.

Nara tersenyum tipis.

“Itu tergantung.”

“Terhadap apa?”

“Seberapa cepat… dan seberapa kuat aku.”

Jawaban itu tidak memberikan kepastian.

Dan justru itu yang membuatnya lebih menakutkan.


“Kenapa kamu gak cerita dari awal?” tanya Arka, suaranya sedikit bergetar.

Nara menatapnya.

Karena ia tahu pertanyaan itu akan datang.

“Karena aku gak mau… kamu ngerasain hal yang sama seperti aku dulu.”

Arka mengernyit.

“Kehilangan.”

Satu kata.

Dan semuanya langsung masuk akal.

“Jadi kamu mau pergi lagi?” tanya Arka.

Nada suaranya berubah.

Lebih tajam.

Lebih emosional.

Nara tidak menjawab.

Dan diam itu… sudah cukup.


“Enggak,” kata Arka tiba-tiba.

Nara menoleh.

“Apa?”

“Enggak kali ini.”

Nada suaranya tegas.

Berbeda dari biasanya.

“Kamu gak bisa mutusin sendiri buat pergi,” lanjut Arka. “Bukan sekarang.”

Nara menatapnya lama.

“Ka… ini bukan sesuatu yang bisa aku kontrol.”

“Tapi kamu bisa milih buat gak ngejalanin ini sendirian.”

Kalimat itu membuat Nara terdiam.

Untuk pertama kalinya… ia tidak punya jawaban.


“Aku takut,” kata Nara akhirnya.

Suaranya kecil.

Rapuh.

Berbeda dari sebelumnya.

Arka menatapnya.

Dan kali ini… ia benar-benar melihat Nara.

Bukan sebagai seseorang yang kuat.

Tapi sebagai seseorang yang lelah.

“Aku juga takut,” jawab Arka jujur.

Nara sedikit terkejut.

“Tapi kalau kita sama-sama takut…” lanjut Arka, “kenapa harus sendiri?”

Air mata mulai menggenang di mata Nara.

Ia berusaha menahannya.

Namun kali ini… ia gagal.


“Aku gak mau kamu lihat aku… jadi lemah,” katanya terbata.

Arka menggeleng pelan.

“Kamu gak lemah.”

Nara tertawa kecil di tengah tangisnya.

“Aku sakit, Ka.”

“Iya.”

“Aku bisa… pergi kapan aja.”

Arka diam sejenak.

Lalu berkata pelan—

“Iya.”

Nara menatapnya.

Terkejut.

Seolah tidak menyangka Arka akan mengatakan itu.

“Tapi selama kamu masih di sini…” lanjut Arka, “aku gak bakal ninggalin kamu.”

Dan untuk pertama kalinya—

Nara tidak mencoba pergi.


Hujan akhirnya turun.

Pelan.

Lembut.

Seolah langit ikut merasakan apa yang mereka rasakan.

Nara menutup wajahnya, menangis tanpa suara.

Dan Arka…

Tidak berkata apa-apa.

Ia hanya berdiri di sampingnya.

Tetap di sana.

Tidak pergi.


Malam itu, mereka tidak banyak bicara.

Namun keheningan mereka berbeda.

Bukan lagi tentang kesepian.

Tapi tentang kebersamaan… di tengah ketakutan.


Saat mereka berpisah, Nara menggenggam tangan Arka sebentar.

“Ka…”

“Iya?”

“Kalau nanti aku berubah… kamu jangan pergi ya.”

Arka menatapnya.

Tidak ada ragu kali ini.

“Iya.”

Jawaban yang sama.

Namun maknanya… jauh lebih dalam.


Di rumahnya, Nara duduk di lantai.

Ponselnya kembali menyala.

Pesan itu masih ada.

Namun kali ini, ia tidak menghindar.

Ia mengetik perlahan—

Aku siap ketemu.

Ia menekan kirim.

Dan untuk pertama kalinya…

Ia memilih untuk tidak lari.


Di tempat lain, Arka berdiri di depan jendela.

Hujan masih turun.

Namun kali ini, ia tidak merasa sendirian.

Karena ia tahu—

Di balik hujan yang sama…

Ada seseorang yang sedang berjuang.

Dan kali ini…

Ia tidak akan membiarkannya sendirian.


Namun mereka belum tahu—

Bahwa perjalanan ini tidak hanya tentang melawan penyakit.

Tapi juga tentang menghadapi kenyataan…

Yang mungkin lebih menyakitkan dari kehilangan itu sendiri.


(To be continued…)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

(Part 4) Aku, Kamu, dan Sepi yang Tertinggal

(Part 1) Aku, Kamu, dan Sepi yang Tertinggal

Part 5 – Tempat untuk Pulang (Ending)