Part 3 – Luka yang Disembunyikan
Malam di atas jembatan itu terasa lebih sunyi dari biasanya.
Lampu-lampu jalan mulai menyala satu per satu, memantulkan cahaya redup di permukaan air yang mengalir di bawah. Arka dan Nara masih berdiri di tempat yang sama, seolah waktu enggan bergerak lebih jauh.
Namun ada sesuatu yang berbeda.
Bukan lagi sekadar pertemuan.
Tapi awal dari sesuatu yang lebih dalam—dan mungkin lebih menyakitkan.
“Aku nggak pernah nyangka kamu bakal nyari aku,” kata Nara pelan, memecah keheningan.
Arka menghela napas. “Aku juga nggak nyangka bakal nemuin kamu lagi.”
Nara tersenyum kecil, tapi matanya tidak ikut tersenyum.
Ada beban di sana.
Sesuatu yang belum selesai.
Mereka akhirnya duduk di sisi jembatan. Angin malam berhembus dingin, tapi tidak ada dari mereka yang benar-benar peduli.
Arka menatap lurus ke depan. “Nara… kamu nulis banyak hal di buku itu.”
Nara tidak langsung menjawab.
“Aku baca semuanya,” lanjut Arka. “Tentang kamu yang selalu pergi duluan… tentang kamu yang takut ditinggalin.”
Nara memejamkan mata sebentar.
Seolah setiap kata itu membuka kembali sesuatu yang ingin ia tutup rapat.
“Aku nggak bermaksud buat kamu baca semuanya,” katanya pelan.
“Tapi kamu sengaja ninggalin itu, kan?”
Hening.
Lalu Nara mengangguk.
“Iya.”
“Kenapa?”
Nara menarik napas panjang.
Karena untuk pertama kalinya… ia akan berhenti lari.
“Aku dulu nggak seperti ini,” katanya perlahan. “Aku pernah punya rumah yang benar-benar terasa seperti rumah.”
Arka mendengarkan tanpa menyela.
“Aku punya seseorang… yang selalu ada. Yang bikin aku percaya kalau aku nggak sendirian.”
“Siapa?” tanya Arka pelan.
Nara tersenyum tipis.
“Namanya Raka.”
Arka sedikit tertegun.
Nama itu terdengar… hampir sama dengannya.
Namun ia tidak mengatakan apa-apa.
“Dia bukan siapa-siapa secara resmi,” lanjut Nara. “Bukan keluarga. Bukan juga… pacar, mungkin.”
“Terus?”
“Dia cuma… orang yang selalu pulang ke tempat yang sama. Dan tempat itu… aku.”
Angin malam terasa semakin dingin.
“Terus apa yang terjadi?” tanya Arka.
Nara menunduk.
“Dia pergi.”
Jawaban itu sederhana.
Namun ada sesuatu dalam cara Nara mengatakannya… yang membuatnya terasa jauh lebih berat.
“Pergi… kemana?”
Nara terdiam.
Beberapa detik.
Beberapa detik yang terasa terlalu lama.
“Sebuah kecelakaan,” katanya akhirnya.
Dan dunia seakan berhenti.
Arka tidak langsung bereaksi.
Ia hanya menatap Nara, mencoba memahami.
“Sejak hari itu,” lanjut Nara, “aku mulai percaya… kalau semua orang pada akhirnya bakal pergi.”
Ia tertawa kecil.
Tawa yang tidak benar-benar bahagia.
“Jadi aku pikir… kalau aku yang pergi duluan, mungkin rasanya nggak akan sesakit itu.”
Arka mengepalkan tangannya pelan.
“Itu nggak bener,” katanya.
Nara menoleh. “Apa?”
“Itu nggak bikin kamu lebih kuat. Itu cuma bikin kamu makin sendirian.”
Nara tidak langsung menjawab.
Karena jauh di dalam dirinya… ia tahu Arka benar.
Tapi kebenaran itu tidak pernah terasa mudah.
“Terus kamu?” tanya Nara tiba-tiba. “Kamu kenapa selalu sendirian?”
Arka terdiam.
Kini giliran dia yang harus membuka sesuatu yang selama ini ia simpan.
“Aku… nggak pernah benar-benar kehilangan siapa-siapa,” katanya pelan. “Tapi aku juga nggak pernah benar-benar punya siapa-siapa.”
Nara mengernyit sedikit.
“Aku hidup… ya cuma hidup,” lanjut Arka. “Kerja, pulang, ulang lagi. Nggak ada yang nungguin. Nggak ada yang nyariin.”
“Dan kamu nggak pernah coba?”
Arka tersenyum hambar.
“Entah kenapa… aku selalu merasa, kalau aku terlalu dekat sama seseorang… mereka bakal pergi juga.”
Nara menatapnya.
“Kamu takut juga.”
Arka mengangguk pelan.
“Iya.”
Untuk pertama kalinya, mereka berdua sadar—
Kesepian mereka berbeda.
Tapi akarnya sama.
Takut kehilangan.
Hening kembali datang.
Namun kali ini, bukan hening yang kosong.
Melainkan hening yang penuh pengertian.
“Nara,” kata Arka akhirnya.
“Iya?”
“Aku mungkin nggak bisa janji kalau aku bakal selalu ada.”
Nara menatapnya, sedikit terkejut.
“Tapi…” lanjut Arka, “aku juga nggak akan pergi tanpa alasan.”
Nara tidak langsung menjawab.
Namun matanya mulai berkaca-kaca.
Kalimat itu sederhana.
Tapi baginya… itu lebih berarti dari janji apa pun.
“Tapi kamu harus berhenti lari,” kata Arka lagi.
“Gampang buat kamu ngomong,” jawab Nara pelan.
“Memang.”
Arka tidak menyangkal.
“Tapi kalau kamu terus lari… kamu nggak akan pernah tahu rasanya ditemuin.”
Nara terdiam.
Kalimat itu… menamparnya dengan lembut.
Selama ini, ia selalu fokus untuk tidak ditinggalkan.
Sampai lupa… bahwa ada kemungkinan untuk ditemukan.
Tiba-tiba, ponsel Nara bergetar.
Ia melihat layar.
Wajahnya berubah.
“Ada apa?” tanya Arka.
Nara tidak langsung menjawab.
Ia hanya menatap layar itu beberapa detik, lalu mematikannya.
“Nggak apa-apa,” katanya cepat.
Tapi Arka tahu.
Ada sesuatu.
Dan sesuatu itu… tidak sederhana.
“Arka…” Nara berkata pelan.
“Iya?”
“Kalau suatu hari aku harus pergi lagi… bukan karena aku mau… kamu bakal ngerti?”
Pertanyaan itu membuat Arka terdiam.
Ada banyak kemungkinan dalam kalimat itu.
Dan tidak satu pun terdengar baik.
“Kenapa kamu ngomong gitu?” tanya Arka.
Nara tersenyum kecil.
Senyum yang terasa… seperti perpisahan.
“Aku cuma nanya.”
Arka menatapnya lama.
Dan untuk pertama kalinya, ia merasakan sesuatu yang berbeda dari sekadar takut kehilangan.
Ia merasa…
Ada sesuatu yang akan terjadi.
Sesuatu yang tidak bisa ia cegah.
Malam semakin larut.
Mereka akhirnya berpisah di ujung jalan.
Namun kali ini, Arka tidak merasa kosong.
Karena ia tahu—
Cerita ini belum selesai.
Tapi di sisi lain…
Ia juga mulai sadar.
Bahwa mungkin, yang akan datang bukan hanya tentang menemukan.
Tapi juga tentang menghadapi sesuatu yang lebih besar dari kesepian itu sendiri.
Di tempat lain, Nara berjalan sendirian.
Ia membuka kembali ponselnya.
Pesan itu masih ada.
Nara, kita perlu bicara. Ini tentang kondisi kamu.
Ia menutup mata.
Napasnya sedikit gemetar.
Dan untuk pertama kalinya sejak lama…
Ia benar-benar takut.
Bukan takut ditinggalkan.
Tapi takut…
Tidak punya waktu.
(To be continued…)

Komentar
Posting Komentar