Part 2 – Jejak yang Tertinggal
Hujan masih menjadi bahasa yang paling sering dipahami Arka.
Sejak Nara menghilang, kota terasa kembali seperti sebelumnya—ramai, bising, dan asing. Namun ada satu hal yang berubah: kini Arka menyadari betapa sunyinya semua itu.
Ia tetap datang ke halte setiap sore.
Bukan karena ia yakin Nara akan kembali.
Tapi karena ia tidak tahu harus pergi ke mana lagi.
Bangku kayu itu masih sama. Sedikit basah, sedikit rapuh, dan selalu dingin saat disentuh. Arka duduk di tempat yang biasa, memandang jalan yang dipenuhi kendaraan.
Dan menunggu.
Hari demi hari berlalu, tanpa hasil.
Sampai suatu sore, sesuatu yang berbeda terjadi.
Di sudut bangku, ada sebuah benda kecil.
Sebuah buku.
Arka mengambilnya perlahan. Sampulnya berwarna cokelat tua, sedikit usang, seperti sudah lama dibawa ke mana-mana. Tidak ada judul di bagian depan, hanya goresan kecil seperti bekas kuku atau mungkin hujan yang terlalu sering menyentuhnya.
Ia membukanya.
Di halaman pertama, ada tulisan tangan.
Rasa sepi itu tidak pernah benar-benar pergi. Ia hanya bersembunyi di tempat yang kita hindari.
Arka menahan napas.
Tulisan itu… ia mengenalnya.
“Ini punya Nara…” gumamnya.
Ia membalik halaman berikutnya.
Tulisan-tulisan lain memenuhi setiap lembar. Sebagian rapi, sebagian terburu-buru, seolah ditulis di tengah hujan atau dalam keadaan yang tidak tenang.
Arka mulai membaca.
Aku pernah berpikir bahwa kesepian hanya datang saat kita sendirian. Tapi ternyata tidak.
Aku bisa duduk di tengah keramaian, mendengar tawa orang lain, dan tetap merasa seperti tidak ada yang benar-benar melihatku.
Aneh ya.
Aku ingin pulang, tapi tidak tahu ke mana.
Arka menelan ludah.
Setiap kata terasa… dekat.
Seperti membaca pikirannya sendiri, tapi ditulis oleh orang lain.
Ia terus membaca.
Ada seseorang yang mulai duduk di halte ini.
Dia tidak banyak bicara. Tapi entah kenapa, kehadirannya membuat sepi ini sedikit berkurang.
Aku tidak tahu namanya.
Tapi aku berharap… dia tidak pergi.
Arka terdiam.
Tangannya sedikit gemetar saat membalik halaman berikutnya.
Namanya Arka.
Dan untuk pertama kalinya, aku merasa… mungkin aku tidak sepenuhnya hilang.
Hujan mulai turun lagi.
Namun Arka tidak bergerak.
Ia tetap duduk di sana, membaca setiap kata, seolah takut kehilangan satu pun bagian dari Nara yang tersisa.
Malam itu, Arka membawa buku itu pulang.
Apartemennya tidak berubah. Masih sunyi, masih dingin. Tapi kali ini, ada sesuatu yang mengisi ruang itu.
Jejak.
Ia duduk di sofa, membuka kembali buku itu, dan membaca lebih dalam.
Semakin ia membaca, semakin ia mengenal Nara.
Tentang bagaimana ia pindah dari satu tempat ke tempat lain.
Tentang bagaimana ia merasa tidak pernah benar-benar diterima.
Tentang bagaimana ia selalu pergi sebelum ditinggalkan.
Aku tidak suka perpisahan.
Jadi aku selalu memilih pergi lebih dulu.
Arka menutup buku itu perlahan.
Dadanya terasa sesak.
“Jadi… kamu pergi karena itu?” bisiknya.
Ia menatap jendela.
Hujan terus turun, seperti biasa.
Namun kali ini, Arka tidak hanya merasa sepi.
Ia merasa… ditinggalkan.
Keesokan harinya, Arka memutuskan sesuatu.
Ia tidak akan hanya menunggu.
Ia akan mencari.
Bukan karena ia yakin akan menemukan Nara.
Tapi karena ia tidak ingin kehilangan tanpa mencoba.
Petunjuk pertama yang ia miliki hanyalah buku itu.
Ia membaca ulang setiap halaman, mencari sesuatu—nama tempat, tanggal, atau apa pun yang bisa membawanya lebih dekat pada Nara.
Dan akhirnya, ia menemukan sesuatu.
Di salah satu halaman, ada tulisan kecil di pojok.
Senja paling indah selalu terlihat dari jembatan tua itu.
Tidak ada nama.
Tidak ada alamat.
Namun bagi Arka, itu cukup.
Sore itu, Arka mulai berjalan.
Ia mengunjungi beberapa jembatan di kota itu. Beberapa terlalu ramai, beberapa terlalu modern.
Namun tidak ada yang terasa “benar”.
Sampai akhirnya, ia menemukan satu tempat.
Sebuah jembatan tua, sedikit berkarat, dengan cat yang mulai mengelupas. Tidak banyak orang di sana. Hanya suara air yang mengalir pelan di bawahnya.
Dan langit mulai berubah warna.
Oranye keemasan.
Senja.
Arka melangkah pelan ke tengah jembatan.
Dan di sana…
Ia melihat seseorang.
Seorang perempuan berdiri di ujung, menghadap ke arah matahari yang hampir tenggelam.
Rambutnya tertiup angin.
Siluetnya… sangat familiar.
“Nara?” panggil Arka, suaranya hampir tidak terdengar.
Perempuan itu tidak langsung berbalik.
Beberapa detik berlalu.
Lalu perlahan… ia menoleh.
Dan benar.
Itu Nara.
Mereka saling menatap.
Tidak ada kata.
Tidak ada gerakan.
Hanya jarak yang memisahkan, dan waktu yang terasa berhenti.
“Kamu… nemuin buku itu ya,” kata Nara akhirnya.
Arka mengangguk. “Kamu ninggalin itu di halte.”
Nara tersenyum tipis. “Atau mungkin… aku memang sengaja.”
Arka berjalan mendekat.
“Kenapa kamu pergi?”
Pertanyaan itu keluar begitu saja.
Tanpa filter.
Tanpa ragu.
Nara menunduk.
Sejenak, ia tidak menjawab.
“Karena aku takut,” katanya pelan.
“Takut apa?”
“Takut kalau aku tinggal… aku akan kehilangan lagi.”
Arka terdiam.
Ia ingin mengatakan sesuatu.
Tapi kata-kata terasa tidak cukup.
“Dan kamu pikir pergi itu lebih baik?” tanya Arka.
Nara mengangkat kepala, menatapnya dengan mata yang sedikit berkaca.
“Lebih mudah.”
Jawaban itu jujur.
Dan justru karena itu… terasa menyakitkan.
Angin berhembus lebih kencang.
Langit semakin gelap.
Namun mereka tetap berdiri di sana.
Dua orang yang sama-sama kesepian.
Dua orang yang sama-sama takut.
“Arka…” Nara berkata pelan. “Kalau aku pergi lagi… kamu bakal nyari aku lagi?”
Pertanyaan itu menggantung di udara.
Arka menatapnya.
Untuk pertama kalinya, ia tidak ragu.
“Iya.”
Satu kata.
Tapi cukup.
Nara tersenyum.
Dan untuk pertama kalinya sejak mereka bertemu…
Senyumnya terasa utuh.
Namun di balik itu semua, ada sesuatu yang belum terucap.
Sesuatu yang masih tersembunyi.
Tentang alasan sebenarnya Nara selalu berpindah.
Tentang luka yang belum sembuh.
Dan tentang rahasia yang mungkin… akan mengubah segalanya.
Senja perlahan menghilang.
Malam datang.
Dan cerita mereka… baru saja dimulai kembali.
(To be continued…)

Komentar
Posting Komentar